Cari Blog Ini

Minggu, 24 Juli 2011

MENJINAKKAN KESOMBONGAN DIRI

❀❀❀❀❀ MENJINAKKAN KESOMBONGAN DIRI ❀❀❀❀❀ ღ_____________________________
​ _________________ღ بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم اَسَّـــــلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَة ُاللهِ وَبَرَكَاتُـــــهُ 
 Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menciptakan segala hal di dunia ini berpasang-pasangan. Panjang-pendek, gemuk-kurus, gembrot-langsing, jauh-dekat, besar-kecil, tinggi-rendah. Begitu pula kaya-miskin, pintar-bodoh, banyak ilmu-miskin ilmu, pejabat teras-rakyat biasa. Semuanya serba berpasangan. Sejak awal Allah menegaskan bahwa perbedaan itu bukan merupakan kelebihan sejati seseorang atas orang lain. Sebab, sesunguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa: Taat kepada aturan-Nya baik perintah maupun laranganNya Allah berfirman yang artinya: “ Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal ". Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal” ( Q.S al-Hujurat:13 )
 Dan karena itu pula, perbedaan tadi bukanlah bibit untuk melahirkan kesombongan manusia, melainkan merupakan sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah Rabbul ‘alamin Sombong: Bertentangan Dengan Realitas Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu'Alaihi Wa sallam, bersabda: ” Tidak akan masuk sorga orang yang didalam hatinya ada sifat sombong walaupun hanya sebesar dzarah ( atom )” Lantas ada seseorang yang berkomentar: “ Sesungguhnya seseorang itu suka memakai pakaian yang bagus dan sepatu bagus”. Menanggapi hal ini Rasulullah Shalallahu'Alaihi Wa sallam, menyatakan: “ Sesungguhnya Allah itu indah, suka pada keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia” [ HR. Imam Muslim ] Hadits ini menjelaskan ada dua unsur yang terkandung dalam sebuah kesombongan: menolak kebenaran dan merasa diri lebih tinggi dengan merendahkan orang lain. Sebagai renungan, pernah seseorang yang cukup senior berdiskusi dengan seorang remaja berusia 21 tahun tentang wajibnya penerapan hukum-hukum Islam. Setelah diskusi berlangsung 1 jam 45 menit, kata akhir pun tidak dicapai. Remaja tadi tetap pada pendiriannya bahwa hukum Islam wajib diterapkan berdasarkan argumentasi, sedangkan sang senior menolaknya Bahkan dengan ketus berujar : “ Kamu ini anak bau kencur! Sudah berani-beraninya menentang orang tua. Saya sudah kenyang dengan perjuangan. Penerapan Islam mah hanya merupakan Ilusi”. Sikap demikian menunjukkan suatu sikap sombong. Bentuknya, menolak kebenaran yang nampak jelas didepannya.Allahu Akbar
 Hanya Allah sajalah Dzat Maha Agung lagi Maha Besar. Manusia –bukan hanya satu atau dua orang tapi setiap orang- serba kurang dan lemah Siapapun orangnya, baik anda maupun orang lain, bila merenungi realitas manusia ini akan menyimpulkan bahwa tidak layak berlaku sombong. Sebagai misal, tanyalah pada diri kita masing-masing, apakah kita yang membuat diri kita sendiri? Jawabannya pasti Tidak ! Anda, sama dengan saya. Bukan saya yang membuat diri saya,dan diri anda bukan Anda yang membuatnya. Kita tidak punya kemampuan sedikitpun untuk menciptakan diri kita sendiri, apalagi menciptakan orang lain. Kita tidak memiliki kuasa untuk mengadakan diri kita. Anda, saya dan kita diciptakan oleh Allah Bukan sekedar itu, kita juga tidak akan pernah mampu menghindar dari kematian. Bila ajal sudah tiba, tidak akan ada satu makhluk pun yang dapat mencegah apalagi terhindar darinya. Coba sebutkan, satu saja, orang yang dapat menghindar dari datangnya ajal ! Tidak ada !!! Bila untuk sekedar mempertahankan keberadaan saja tidak mampu, apa yang menjadi alasan bagi kita untuk sikap sombong ? Realitas-realitas sederhanapun menjelaskan ketidaklayakan seseorang bersikap sombong. Coba kita tanyakan secara jujur dan sengaja pada diri kita, darimana dan siapa yang membuat baju, celana, sepatu, kancing, resletting, tas, potlot, pulpen, buku, peci, kerudung, mukena, kacamata minus, jam tangan, dan hand phone yang kita pakai ? Apakah semua itu kita membuat dengan tangan kita sendiri ? Dan apakah kita mampu menyediakan dan memproduksi sendiri semua kebutuhan tadi ? Ataukah sekedar membuat kancing pun kita tidak bisa ? Bila demikian, apa layak kita memelihara rasa sombong dan ujub ( angkuh ) itu ? Ketika kita sedang makan, pernahkah menghayati siapa yang menanam padi, siapa yang menggilingnya, siapa yang membelinya dari pasar, siapa yang membuat magic jar untuk menghangatkan nasinya, siapa yang menambang minyak tanah atau gas untuk kompor, siapa yang menanam sayur yang kita santap, siapa yang memasaknya, siapa yang menanam kedelai bahan tempe yang kita santap, siapa yang mendatangkan tahu dari sumedang ke rumah kita, siapa yang menyediakan air bersih bagi kita ? Apakah kita yang melakukannya ? Siapa yang memeras susu murni yang kita minum ? Siapa yang menanam pisang, apel, atau buah-buahan yang lainnya yang kita nikmati ? Apakah kita yang melakukan semua itu ? Dan apakah kita memiliki kemampuan untuk melakukan sendiri hal-hal tersebut ? Berikutnya, apakah gayung di kamar mandi, kita sendiri yang membuatnya ? Sabun mandi dan shampo kita sendiri yang meraciknya ? Belum lagi sisir dan cermin yang ada dirumah kita, kitakah yang membuatnya ? Apakah kita mempunyai semua keahlian tersebut ? Bila tidak, orang yang membusungkan dada sebenarnya hanya menunjukkan kenyataan bahwa ia tidak mengetahui dirinya sendiri ( baca: ‘tidak tahu diri’ ) Boleh jadi seseorang merasa dirinya lebih tahu dibandingkan dengan orang lain. Dari satu sisi tidak menutup kemungkinan benar, ia lebih tahu dari orang lain. Namun, sekalipun demikian, berlagak sok paling tahu hanyalah cerminan dari sejenis ketidak-ikhlasan. Tidak tunduk kita --sewaktu tersamar atau terang-terangan—merasa lebih dari orang lain merupakan awal kesombongan. Realitasnya, benarkah kita yang paling tahu atau serba tahu ? Marilah kita lihat, sekedar contoh saja, seseorang yang sangat tahu tentang statistika belum tentu paham kedokteran. Ada juga seorang temen yang sangat mahir dalam bidang ekonomi, namun saat menerjemahkan buku berbahasa Arab kualitasnya terjemahannya jauh dibawah orang lain Contoh lain, seorang Kyai di daerah Garut memiliki keahlian luar biasa dalam masalah fikih, namun beliau mangaku awam dalam masalah politik Islam. Demikianlah keadaan manusia. Boleh jadi ia memiliki kelebihan dalam sesuatu tetapi justru lemah dalam banyak perkara lainnya. Bila orang yang merasa dirinya lebih dalam suatu hal bertindak sombong, dapat dipastikan dunia ini penuh dengan manusia-manusia angkuh. Tentu saja, hal ini bertentangan dengan karakter dasar manusia sesuai fitrah. Atau barangkali kiat merasa memiliki kekuatan melebihi orang lain. Bibit keangkuhan pun mulai tumbuh. Ketika hal ini terjadi, bersegeralah meminta ampun. Sebab, merasa lebih atau paling kuat hanyalah sebuah bentuk kesombongan Cobalah Anda jalan-jalan ke depan rumah ataupun kalau hendak pergi kepasar. Disana banyak ditemui mamang tukang jual gorengan yang dipikul. Sebelum tukang gorengan itu menggoreng tahu, karoket, combro, bala-bala, pisang atau tempe umumnya minyak –yang sudah menghitam—itu mendidih. Sanggupkah anda meminta sesendok makan minyak mendidih itu, lalu diminum saat itu juga ? Bila sanggup, apa yang terjadi ? Lidah Anda pasti melepuh ! Gigi pun bisa rontok. Mengapa ? Kekuatan seseorang sangatlah terbatas. Seseorang mungkin saja tiga hari tiga malam tidak tidur karena kesana kemari menyebarkan Dakwah. Namun, tetap saja, ia perlu istirahat. Inilah Sunnatullah Sebagai catatan ringan, manusia mampu bertahan tidak makan hanya 3 atau 4 bulan, dapat bertahan tidak minum maksimal 4 hari, dan kekuatan menahan nafas hanyalah 3,8 menit. Bila demikian, dimanakah letak kekuatan yang dibanggakan itu ? Seseorang boleh jadi merasa sombong akibat kecantikan atau ketampanan dirinya. Atau barangkali merasa sombong karena merasa paling jelek rupa. Bila Anda termasuk orang seperti tadi, sudah saatnya Anda menengok realitas sebenarnya. Apakah kecantikan dan kegantengan atau kejelekan itu adil buatan Anda sendiri ? Hidung mancung, mata melankolis, bibir sensual, pipi merah muda alami alias si humairah tea, alis mata laksana semut hitam berbaris, dagu ibarat telur asin sepotong, atau barangkali janggut tebal hiasan, apakah anda yang menjadikan itu semua ? Bukan ! Sekali lagi bukan ! Bila begitu, rupa mana yang layak untuk disombongkan ? Belum lagi bila dibandingkan dengan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Manusia itu maha tidak tahu. Manusia, siapapun dia, tidak dapat membuat walaupun hanya seekor semut tanpa menggunakan bahan apapun. Cobalah merem lalu bilang aba kadabra, akan muncullah semua spesies terbaru ? Pasti, tidak. Atau, saat Anda tengah mengetik dihadapan komputer pukul 14:17 ( tentu saja siang ) WIB, pusatkan konsentrasi Anda, lalu rubahlah agar saat itu juga berubah menjadi pukul 02:17 malam WIB, bisakah ? Lagi-lagi, tidak ! Karenanya, realitas menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki sesuatu yang dapat disombongkan. Bila demikian, siapapun orangnya yang memandang diri dia mempunyai kelebihan atas orang lain tidak layak bersikap sombong. Sebab, kesombongan bertentangan dengan realitas. Tidak ada alasan apapun bagi manusia –siapapun ia, bagaimanapun kemampuan dia—untuk berperangai sombong Sombong: Bertentangan Dengan Hukum Allah Subhanahu Wa Ta'ala Abu hurairah radhiyallahu anhu, menyatakan bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam, bersabda, Allah Yang Maha Mulia Lagi Maha Agung berfirman: “ Kemuliaan adalah pakaian-Ku dan kebesaran adalah selendang-Ku, maka barangsiapa yang menyaingi Aku dalam salah satunya maka Aku pasti akan menyiksanya.” [ HR. Muslim ] Begitu pula, sabda Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam “ Suatu ketika ada seorang laki-laki berjalan dengan memakai perhiasan dan bersisir rambutnya, ia mengherani ( ta’jub ) dirinya sendiri dengan penuh kesombongan didalam perjalanannya itu, Kemudian, tiba-tiba Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyiksanya: Ia selalu timbul tenggelam di permukaan bumi sampai hari kiamat.” [ HR. Bukhari dan Imam Muslim ] Dalam kedua hadits ini tegas sekali Allah Subhanahu Wa Ta'ala, akan menyiksa siapa saja orang sombong. Artinya, Allah mengharamkan sikap sombong ( merasa diri lebih dari orang lain, menganggap yang lain lebih rendah dan menampakkannya ), ataupun ujub / angkuh ( bangga terhadap diri sendiri tanpa memperlihatkannya ). Kesombongan hanyalah Milik-Nya. Hanya Dia yang berhak untuk ‘sombong’. Tidak layak siapapun angkuh dan sombong, sebab memang tidak ada yang dapat disombongkan Bahkan Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam, sengaja menekankan persoalan ini dengan bertanya kepada para sahabat: “ Maukah kalian aku beri tahu ahli neraka ?” Beliau pun menjelaskan “ Yaitu, setiap orang yang kejam, rakus dan sombong ” [ HR. Bukhari dan Muslim ] Jelas bahwa balasan mereka yang sombong adalah neraka “ tidak akan masuk surga orang yang didalamnya ada sifat sombong walaupun sebesar atom”. Satu hal yang penting dicamkan bahwa menghindari kesombongan bukan berarti menghindari punya kelebihan, melainkan menghindari adanya perasaan ataupun ungkapan mengagung-agungkan diri sendiri serta menganggap orang lain lebih rendah darinya. Orang mengenakan pakaian bagus, bukan berarti sombong atau angkuh. Orang berpegang teguh kepada kebenaran Islam dan menentang mentah-mentah pemikiran dan ideologi kufur, tidak mengindikasikan adanya kesombongan Sebaliknya, saat seseorang mengenakan pakaian bagus, misalnya, disertai dengan sikap merasa bahwa dia lebih tinggi dan orang lain dibawah dia, saat itulah kesombongan muncul. Begitu juga, orang yang berpakaian serba jelek bila hati yang tertanam rasa bahwa ia lebih zuhud daripada orang lain, ketika itu kesombongan nampak. Sama dengan itu, seseorang yang menyampaikan Islam dengan progresif, semangat yang berkobar serta menentang keras kebathilan disertai dengan argumentasi mematikan, sementara dihatinya tida terbetik sedikitpun rasa bangga akan diri sendiri atau sikap memandang rendah orang lain, maka kesombongan tidak melekat dalam dirinya. Jadi persoalannya terletak dalam sikap memandang rendah orang lain, pada saat ia memandang tinggi diri sendiri Selain itu, orang seperti –orang yang sombong—ini akan sulit menerima kebenaran yang disampaikan oleh orang lain. Mengapa ? Sebab, sudah merasa dirinya lebih dan orang lain serba rendah sehingga –dalam pandanganya—mana mungkin orang ‘ tinggi ’ menerima sesuatu dari orang ‘ rendah ’. Berkaitan dengan persoalan ini, dulu seorang sahabat mengungkapkan pandangan di depan Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam “ Sesungguhnya seseorang itu suka memakai pakaian yang bagus dan sepatu bagus ” Menanggapi hal ini Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam , menyatakan: “ Sesungguhnya Allah itu indah, suka pada keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia ” [ HR. Imam Muslim ] Menghindari Sikap Angkuh Dan Sombong Sikap angkuh dan sombong dapat menimpa siapa saja: Saya, anda, kita, dia dan mereka. Sekali lagi, dapat menimpa siapa saja. Ungkapan seperti ‘ kalau bukan saya, mana mungkin bisa !’, ‘ Untung saja ada saya kalau tidak wah bahaya ’, ‘Saya ini orang terkenal lho!’ dan ‘ah, dia kan ngajinya juga baru kemaren sore, sedangkan saya lulusan perguruan tinggi agama’ dan sejumlah ungkapan yang lain, merupakan indikasi sikap kesombongan '. Untuk menjinakkannya, perlu menempuh beberapa hal Antara lain sebagai berikut: 1. Senantiasa mengingat dan menanamkan keyakinan bahwa sombong dan ujub itu dosa. Bukan orang lain yang akan merasakan balasan buruknya dari Allah melainkan diri sendiri 2. Yakinlah, kesombongan tidak akan menambah apapun selain kerugian. Tidak ada orang yang suka siapapun yang angkuh dan sombong. Sama seperti Anda dan saya. Sebenarnya, seseorang yang sombong juga tidak suka bila ada orang lain berlaku sombong didepannya. Dia pun akan mengatakan “ sombong amat ” padahal, pada saat yang sama ia tidak sadar kalau dirinya juga menunjukkan sikap sombong, mengapa ia tidak katakan pada dirinya sendiri ‘Sombong amat aku !” 3. Sering-seringlah mengingat kelemahan diri sendiri. Pada berbagai kesempatan santai, saat istirahat, bengong di kendaraan, sejenak menjelang tidur, atau kapan saja— cobalah memikirkan kelemahan kita dibandingkan dengan orang lain. Dengan mengetahui kelemahan, InsyaAllah akan muncul sikap rendah hati ( tawadlu’ ). Sebaliknya, tanpa mengetahui kelemahan, seseorang akan merasa dirinyalah yang paling segala-galanya. Orang sunda menyebutnya ‘asa aing pangdadalina!’ ( Merasa dirinya paling gagah laksana burung garuda ) Hal ini tidak berarti jangan mengetahui kelebihan diri sendiri. Tidak seperti itu ! Memahami potensi dan keunggulan diri sendiri amatlah penting. Namun mengetahui keunggulan diri sendiri tersebut jangan sampai melahirkan sikap menganggap rendah orang lain. Sebab, setiap kelebihan yang Anda miliki hanyalah sebuah kemaha-lemahan manusia bila dibandingkan dengan kesegala-mahaan Allah Dzat Maha Kuasa. Dan setiap Anda memiliki kelebihan dalam perkara yang merupakan kelemahan Anda 4. Seperti telah disebutkan, memelihara sifat sombong berarti membangun benteng penghalang datangnya kebenaran. Dengan adanya sombong, seseorang cenderung menolak kebenaran sekalipun telah jelas didepan mata. Padahal, menolak kebenaran berarti mengunci gerbang perubahan kearah kebaikan yang bermuara kepada kebahagiaan. Konsekuensinya, kebahagiaan dunia dan akhirat, bila demikian, hanyalah sebuah angan-angan hampa 5. Bila Anda sering melayat orang yang meninggal dunia, jangan hentikan kebiasaan itu ! Selain sebagai pemenuhan atas perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala, melayat itu juga dapat Anda gunakan sebagai perenungan. Saat melayat, cobalah sekali-kali singkap kain penutup wajahnya. Nampaklah wajah pucat pasi dengan mata terpejam, bibir rapat tertutup. Badan terkujur membeku, tangan terlipat kaku. Tidak dapat berbuat apa-apa. Padahal, teman atau tetangga Anda itu mungkin saja seorang jutawan, atau barangkali wartawan senior, boleh jadi dia itu orang yang popularitasnya luar biasa, mantan penguasa. Namun, kelebihan apapun tidak berati apa-apa saat itu. Semuanya serba kecil dihadapan Allah Rabbul ‘alamin. Bila seperti ini realitasnya, apa lagi alasan untuk bersombong diri ?! 6. Setiap kali muncul keinginan untuk sombong atau membanggakan diri, segeralah mohon ampunan kepada Allah Dzat Pemutar balik Hati. Berlindunglah dari kesombongan, dan berdo’alah kepada Allah ! Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengabulkan. Akhirnya, mulai detik ini benih-benih kesombongan tidak boleh ada dalam diri kita, apalagi sebagai seorang muslim, apalagi pengemban dakwah. Kesombongan dan keangkuhan merupakan indikasi kelemahan diri sendiri Kesombongan dan keangkuhan merupakan perbuatan yang jauh dari simpatik. Akibatnya, orang yang didakwahi justru menyingkir dari kita. Ini kalau bangga terhadap diri sendiri berkenaan dengan perkara-perkara yang boleh jadi memang benar-benar ada dalam diri kita. Tetapi, bila memuji diri sendiri, merasa lebih tinggi, dan merendahkan orang lain itu menyangkut perkara yang tidak ada pada diri kita maka, sesungguhnya hal ini merupakan indikasi kemunafikan. Tidak mau menerima diri sendiri sebagaimana apa adanya. Bahkan merupakan keengganan menghadapi dan menerima kebenaran ~>

2 komentar:

  1. Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita buat, perbuatan-perbuatan besar yang telah berhasil kita lakukan. Tapi kita lupa, bahwa semua itu terjadi karena Allah ada di samping kita. Kita adalah anak kecil tadi, tanpa ada Allah di samping kita, semua yang kita lakukan akan sia-sia. Tapi bila Allah ada di samping kita, sesederhana apapun hal yang kita lakukan hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan saja buat diri kita sendiri tapi juga baik bagi orang di sekitar kita.

    Semoga kita tidak pernah lupa bahwa ada Allah disamping kita.

    nah kawan, masihkah engkau merasa hebat, masihkah teman tenmanmu kau anggap sangat hebat, akankah hartamu bisa menyelamatkanmu, akankah kecerdasanmu bisa terus kau andalkan, selama Allah terus saja kau abaikan, padahal semuanya karena seijin Allah, semuanya karenan Ridho Allah, semuanya karena Allah menyertaimu, masihkah kau kawan ? coba jawab.. aku ingin dengar jawaban-jawaban kamu, aku ingin lihat lihat pendapat-pendapatmu, aku ingin lihat kamu menyanggah semua apa yang aku tulis..

    kawanku yang sangat baik , cukuplah…cukup… semua tergantung padamu, aku hanya berusaha mengingatkan kamu, jika kamu berubah ya Alhamdulillah, jika tidak semoga Allah segera membukakan pintu hidayahnya untukmu…

    semoga bermanfaat.

    BalasHapus
  2. Ketika Rasulullah Saw. menantang berbagai keyakinan bathil dan pemikiran rusak kaum musyrikin Mekkah dengan Islam, Beliau dan para Sahabat ra. menghadapi kesukaran dari tangan-tangan kuffar. Tapi Beliau menjalani berbagai kesulitan itu dengan keteguhan dan meneruskan pekerjaannya.

    BalasHapus