Cari Blog Ini

Sabtu, 25 Juni 2011

Gara-Gara Facebook




♥♥ ~* Gara-Gara Facebook*~ ♥♥

“Baik, sampai di sini perkuliahan hari ini, terima kasih, assalamu’laykum. “ Bu Gustina menutup kuliah hari itu.

“Wa’alaykumussalam, Bu” Jawab para mahasiswa jurusan Hubungan Internasional itu berbarengan, masing-masing bergegas pulang. Di antara para mahasiswa tersebut, tidak ketinggalan Gina Aulia, kelihatan terburu-buru meninggalkan ruangan.

Panas banget hari ini. Kali kesepuluh Gina mengeluh hari itu. Dalam perjalanan pulang, Gina bergumam. Duh, ga sabar, nih, mau update status, ah. Hari ini update status apa, ya. Gadis manis itu senyum-senyum sendiri, membayangkan layar lepinya penuh dengan warna biru tua dan putih.

Sesampainya di rumah, buru-buru pula Gina membuka Hurricane, begitu Gina menyapa kado ultah dari ayahnya itu. Laptop yang baru berusia 19 minggu.

Hah? Gina terbelalak, ada yang menerornya di facebook, passwordnya diganti. Berkali-kali Gina mencoba log in, tetap tidak bisa. Buru-buru Gina menyambar Dandelion, hape qwerty kesayangannya, kado ultah juga, dari ibu. Gina menekan tombol 4, lama, speed dial ke nomor abang Gusti, saudara Gina satu-satunya.

Tuuuut..

Angkat, angkat. Cepat, bang. Gina bergumam.

“Assalamu’alaykum.” Terdengar jawaban dari seberang.

“Kumsalam.” Jawab Gina terburu-buru. “Bang, tolongin Gina, dong. Facebook Gina nge-heng tu. Ga bisa dipake, ada yang ganti passwordnya. Ya bang ya? Ya, ya? Please..” Gina menjelaskan secepat kereta ekspres.

“Loh? Kok sama abang nanyanya? Bukan abang yang ganti, kan abang ga tau passwordmu.”

“Iya, Gina tau, tolong benerin gitu, Bang. Gina mau online ga bisa, eh.”

“Iya, iya. Kamu kirim aja alamat emailmu sama passwordnya.”

“Jangan dihafal tapi, ya, bang, passwordku.” Gina memang banyak maunya.

“Iya, iya.”

“Cepetan, ya, bang.”

“Iya, iya.”

“Makasih, ya, abangku yang baik, hehe.” Gina nyegir.

“Iya, iya.”

“Udah ya, Bang. Samlikum.”

Bip, bip.

Belum sempat Gusti menjawab, Gina sudah menutup telponnya. Laki-laki itu hanya geleng-geleng kepala ‘melihat’ tingkah adik bungsunya itu.

Tak lama kemudian, dering lagu Yusuf Islam terdengar nyaring dari Dandelion-nya Gina. Ada pesan masuk dari abangnya.

Sudah abang perbaiki. Passwordnya tanggal lahir kamu. Enam digit. Udah, ya, dek, abang mau lanjut kerja. Kak Dewi udah nungguin abang pulang.

Dengan ketikan disingkat-singkat, Gina membalas sms abangnya.

Alhmdlh, mksh, y, bg. Ws.

Buru-buru Gina duduk mantap di depan monitor Hurricane, mengklik bookmark “facebook” di mozila-nya, dan, senyum-senyum lagi.

Update status lagi. Komen-komenan lagi. Chatting. Bikin notes. Join group. Upload foto. Promosi twitter. De el el. Berlomba-lomba eksis dengan teman-temannya.

Begitulah setiap hari.

Delapan kata itu tidak pernah sepi pengunjung.

***
Sore itu, Gina membanting pintu kamarnya. Ngekos emang bisa seenaknya sendiri. Gina baru saja menerima hasil nilai kuis Teori Peluangnya, cuma dapat nilai 39, deretan nilai-nilai terbawah di kelasnya. Dengan berderai-derai air mata Gina log in ke facebooknya, update status.

Huaaaaa.. Aku benci peluang.. Kenapa nilaiku kecil banget.. T.T Mau eksriiiim.. Tapi ga punya duit.. T.T

Dengan gaya semenarik mungkin, mengundang orang komen, Gina mengklik button share.

Lalu muncul notifikasi, ada yang komen di statusnya Gina. Trus ada yang kirim wall pula, menghibur Gina. Gina melihat-lihat home-nya dan mulai komen di status teman-temannya. Lanjut, deh. Gina bermalas-malasan, OL di depan layar lepi kesayangannya.

Esok harinya, seperti biasa, Gina curhat di facebook, dia bikin notes yang mengatakan dia kurang uang jajan. Pengen beli ayam goreng ga bisa. Lanjut, deh. Ada banyak orang komen di statusnya Gina.

Begitulah setiap hari, facebook dan facebook, tidak pernah bosan. Sampai suatu hari, saat Gina pulang ke Depok, ke rumah orang tuanya. Bermaksud memberi kejutan hari ulang tahun pernikahan papa mamanya.

Gina sampai di depan pintu rumahnya. Belum sempat Gina mengetuk pintu terdengar bunyi guci pecah.

Prang.

Gina mendengar suara pintu dibanting. Bikin kaget aja. Setelah bergumam Gina menunda maksud mengetuk pintu, hanya mengintip dari sela-sela jendela. Belum sempat Gina mengucapkan salam, terdengar suara Papa setengah membentak.

“Mama tuh yang salah. Anak kok ga dikasih jajan.”

“Lah, kok mama yang disalahin. Mama kasih Gina dua juta, Pa, perbulannya, itu belum termasuk SPP dia. Gina aja yang ga bisa ngurus uang. “Terdengar suara mama membantah sambil terisak-isak.

“Tapi mungkin saja dia ada keperluan mendadak dan ga berani minta, kan?”

“Sejak kapan anak kita jadi penakut buat minta uang, Pa?”

Pertanyaan yang sama muncul di benak Gina. Papa terdiam.

“Papa malu sama teman-teman papa, Ma.” Papa melanjutkan. “Mereka pikir papa ga bisa membesarkan anak dengan baik.”

Gina penasaran. Anak papa dan mama kan cuma aku dan bang Gusti. Trus siapa yang dimaksud? Abang kan udah nikah, masa masih dikasih uang jajan? Berarti aku dong yang jadi sumber masalahnya. Gina manggut-manggut. Tapi dari mana papa mama tau kalau aku protes? Kening Gina berkerut. Berpikir. Lalu..

“Mama yang seharusnya malu, Pa. Ibu-ibu arisan pada ngomongin mama ga bisa ngatur uang sehingga anak bungsunya ga bisa bayar uang kuliah.” Tangis mama.

Glek.

Gina gelagapan mendengar kata bungsu tersebut. Wah? Jangan-jangan mama baca statusku lagi. Tapi kan papa dan mama sibuk, masa sempet2nya OL? Gina kebingungan.

Masih dengan lamunannya, Gina melihat dari kejauhan, muka papa memerah menahan marah.

“Anak kita kayaknya tersiksa sekali di belakang kita. Mama sih ga bilang kalau uangnya kurang. Kita kan bisa ngambil deposito kita.”

“Mama udah bilang, kan. Uangnya cukup, Gina aja yang ga bisa ngatur uang, berapa pun dikasih tetep aja kurang.” Suara mama mulai meninggi.

“Alah, papa ga percaya. Seharusnya kamu lebih perhatian lagi sama Gina, Ma!”Papa mulai membentak.

“Mama udah rajin nelponin dia, Pa. Apa ga labih baik dari papa yang sms aja ga pernah?”

“Trus kenapa kata pak Mahmud nilai-nilai Gina jelek?” Bentakan papa meniggi.

“Lah, mama lagi yang disalahkan. Gina selalu menjawab baik-baik saja kalau mama Tanya kabar kuliahnya.”

“Trus kenapa status facebooknya sedih-sedih gitu? Merana banget kelihatannya, ma. Anak kita tu dalam masalah! Seharusnya mama lebih perhatian.” Wajah papa memerah.

“Udahlah, pa. mama bosan disalahkan terus. Yang tidak perhatian itu papa, yang tidak bisa ngatur uang itu Gina. Kerjaan dia cuma facebook, jadi wajar nilainya jelek.” Mama bergegas berdiri. Namun belum selangkah digapainya,

Bruk.

Mama pingsan.

Gina kaget. Tanpa banyak cakap Gina masuk dan membantu papa membawa mamanya ke rumah sakit. Penyakit lemah jantung mama kumat. Sepanjang jalan Gina menangis si sebelah mamanya yang pucat pasi. Papanya hanya terdiam sambil menggenggam erat tangan sang istri.

Di rumah sakit, sambil menunggu di dekat pintu UGD, Gina menceritakan semuanya pada papanya. Bahwa Gina terlalu larut dalam dunia maya, OL tiap malam, kadang baru beranjak untuk tidur dini harinya. Waktu belajar Gina sangat kurang. Tidak ketinggalan Gina menceritakan tentang masalah-masalah lain yang dia buat karena terlalu ekspresif dalam berfacebook. Papanya terenyuk mendengar penjelasan Gina. Gara-gara 8 kata itu, mama Gina harus dirawat di rumah sakit. Tiga hari mamanya tidak sadarkan diri.

Seminggu kemudian, mama keluar dari rumah sakit. Gina pun begitu, keluar dari kelarutannya pada 8 huruf tersebut. Nilai-nilai Gina pun kembali membaik, dan uang jajan Gina ditambah.

Alhamdulillah, Gina update status di dalam hati, mengucap syukur pada Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar